Friday, 17 December 2010

Pembelajaran Berbasis Pada Otak

Tantangan saat ini persaingan kualitas otak, yang menjadi pertandingan adalah bagaimana menggelola otak kita untuk memenangkan persaingan dan memahami “How the brain learns best”.

Bertahun-tahun bahkan berabad-abad sejumlah ilmuan melakukan penelitian yang berkaitan dengan kinerja otak manusia. Hasilnya adalah sebuah pendekatan pembelajaran yang lebih baik sekaligus lebih alami, yang dikenal sebagai pembelajaran brain-compatible atau brain-base, yang merupakan sistem pembelajaran yang berbasis pada kemampuan otak.

Jika kita amati dari kaca mata sejarah, tentang munculnya sistem pembelajaran berbasis kemampuan otak yaitu sekitar tahun 1990-an, dan cabang ilmu ini telah berkembang pesat menjadi lusinan subdisiplin.

Buku yang berjudul “Brain-Based Lerning: Cara Baru dalam Pembelajaran dan Pelatihan”, yang ditulis oleh Eric Jensen (Pustaka Pelajar, Yogyakarta, Cetakan : I, Desember 2008), menuntut kita untuk mengiinisiasi perubahan fundamental terhadap pemikiran. Karena banyak hal yang membuat kita harus selalu berhadapan dengan beberapa permasalahan pembelajaran seperti sekarang ini.

Pembelajaran berbasis pada otak adalah cara berpikir baru tentang proses pembelajaran. Ini bukan sebuah program, dogma atau resep bagi para guru, namun ini hanyalah merupakan serangkaian prinsip, serta dasar pengetahuan dan keterampilan yang dengannya kita dapat membuat keputusan-keputusan yang lebih baik yang memang di butuhkan saat sekarang ini.

Ketika kita belajar untuk mengajar dengan memakai cara otak yang masih alami, akan sangat membantu jika kita memiliki pemahaman tentang anatomi otak. Karena saat proses pembelajaran kita akan selalu melibatkan seluruh bagian tubuh, otak bertindak sebagai pos perjalanan untuk stimulasi yang akan datang. Semua input sensori disortir, diprioritaskan, diproses, disimpan atau dibuang ke dalam ruang bawah sadar sehingga diproses oleh otak.

Memang sistem pembelajaran berbasis pada kemampuan otak, sebenarnya sejalan dengan beberarapa aliran pendidikan modern, yang termasuk dalam aliran progresivisme. Tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan kecerdasan praktis, serta untuk membuat seseorang lebih efektif dalam memecahkan berbagai problem yang disajikan dalam konteks pengalaman (experience) pada umumnya (William F. O’neill, 1981).

Tujuan pendidikan yang berbasis pada kemampuan otak adalah melatih kita agar kelak otak kita dapat bekerja, bekerja secara sistematis, mencintai kerja, dan bekerja berdasarkan pada otak dan hati. Untuk mencapai tujuan tersebut, pendidikan seharusnya dapat mengembangkan sepenuhnya bakat dan minat setiap anak didiknya.

Pendidikan yang berbasis pada otak adalah system yang mengakomodasi pengalaman-pengalaman (atau kegiatan) belajar yang diminati oleh setiap siswa (experience curriculum). Sedangkan metode pendidikannya lebih berupa penyediaan lingkungan dan fasilitas yang memungkinkan berlangsungnya proses belajar secara bebas pada setiap anak untuk mengembangkan bakat dan minatnya masing-masing (Mudyaharjo, 2001). Sehingga berbicara mengenai masa depan berarti kita menganti model mental dan pola pikir lama, dimana tantangan ada pada otak kita sendiri.

Memasuki abad 21 ada awal abad otak dan milinium pikiran yang mana otak dibagi dalam beberapa bagian yaitu: Panietal labe, Trontal labe, Temporal labe, Stain labe, Corebellum, dan Occiptal labe.
Why think matters:
a. How you think (Bagaimana kita berpikir).
b. How you act (Terlihat dari tindakan kita).
c. Is who you are (Menunjukan siapa kita).
Di sini diperlukan perbuatan dan perkataan sama dan berpikir dan tindakan harus sama.

No comments:

Post a Comment

Post a Comment